Rumah Karya

  • Beranda
  • Puisi
  • Prosa
    • Tentang Uswah
    • Tentang Aku dan Jean
    • Tentang Perempuan
    • Prosa Teologis
    • Prosa Erotis
    • Untuk Cinta
    • Refleksi
  • Renungan
  • Esai
  • Resensi Film
  • Fotografi
  • Desain Grafis
  • Penulis
    • Galeri

Tak Berdaya 

4/26/2014

0 Comments

 
Hanya merebahkan diri setiap hari di satu satunya bumiku, pembaringanku adalah satu-satunya bumiku, aku bertapa dan berkontemplasi diatasnya setiap masa dan setiap waktu, dengan raga dan benak  penuh letih dan lemas.

Pikiranku melayang-layang kelangit duniamu, dunia cinta dan tragedi-tragedi kemanusiaan tentang cinta itu. Pikiranku selalu berenang menepi  kedaratan, enggan dan tak mampu berenang melintasi samudera biru didepan, hanya merenung diatas karang tepi pantai dan hanya mengangankan keindahan samudera nan jauh disana. Diatas karang aku terluka, goresan-goresan luka selalu terbaharui tak pernah lekas kering. Aku selalu melihat daratan, dan tak berani melintasi samudera, dan daratan itu adalah kamu, dan segala kejahatanmu.

Hanya peristiwa, tragedi, dan kasus kita yang selalu mengunjungi benak dan pikiranku. Selalu berputar aku disitu, tak pernah bisa melompat dari lingkaran cinta memilukan ini. Semuanya tak berujung dan belum mampu aku menyibak maksud dan makna teka-teki ini. Pemikiranku selalu berputar putar tidak sistematis, karena mungkin terlalu membingungkan kajian ini. Aku terus berenang dalam ruang pemikiran untuk mengungkap filosofi tragedi ini. Bukankah setiap masalah terdapat falsafah dan hikmah, serta maksud. Namun dalam kisah ini, semuanya masih semu dan abu abu.

Aku tak berdaya dengan tragedi ini, karena kamu dan oleh kejahatanmu. Kekanak-kanakanmu membuat masalah yang sederhana menjadi masalah besar tak terkira. Dan semakin berimplikasi kepada kerusakan dan musnahnya hak-hakku untuk hidup bahagia layaknya anak adam lainnya. Rutinitasku hanya merebahkan ragaku diatas pembaringanku dan tak kuasa aku bergerak dinamis untuk keberlangsungan dan masa depanku.

Perlakuan dan sikapmu yang picik membuat tali batinku kepadamu tak pernah putus, serasa masih ada yang belum terselesaikan, serasa masih ada argumentasi yang ingin ku ungkapan untuk mementahkan wacana dan statemenmu yang berlandaskan egoisaitas dan bukan pengamatan objektif, dewasa dan bijaksana. Argumentasi dan pembelaanmu tak berbeda dengan fitnah, amat menyiksa batinku. Seperti ibarat “maling teriak maling” Kau tokoh antagonis dalam kisah ini tapi kau tidak sepakat aku menjadi tokoh protagonis, dan semua ingin kau balikkan. Dan sekiranya kamu merasa bersalah namun kau menganggapku terdapat kesalahan pula, maka sebenarnya itu adalah pengamatanmu yang salah dan berbasis egoisitas dan kepicikan. Satu keburukan terbesar dalam dirimu: “enggan disalahkan ketika kau merasa bersalah” dan kesalah terbesar yang membuatmu meneguk karma selama ini: “kau menyalahkanku seenak hatimu lalu memaksaku merasa bersalah”

Aku tak berdaya dan tak berdaya, terlihat jalanku didepan terasa gelap gulita, tak tahu dengan apa aku menerangi jalanku untuk bisa kutapaki tanah jalan itu, untuk melewati fase-fase kehidupanku selanjutnya, untuk memenuhi hakku menikmati tahap berikutnya dalam kehidupanku. Kau mengikatku dalam ruang ini, ruang gelap penuh siksa yangmembuatku mengerang sakit dan terhenti dari perjalanan manusiaku.

Kau masih kecil dan kekanak-kanakan walau kau sudah menyapih manusia mungil. Setelah sejauh ini kau belum bisa menggali dan menyibak tragedi kita. Kau belum dewasa dan bijaksana melihat dan menyikapi masalah ini, dan kau belum menemukan point-point penting yang akan menyadarkanmu akan masalah ini, tentang kematangan dan kebijaksanaan dalam memandang masalah yang selanjutnya membentuk sikap dan tanggung jawab. dan dan entah sampai kapan....., seandainya engkau sudah mampu, mungkin engkau bisa sedikit melepaskan diri dari kerisauaan dan kecemasan dalam batinmu.

Suatu saat jangan kau rendahkan aku jika aku tidak bisa menjadi manusia berharga dan berkelas seperti dirimu di masa depan. Harus kau tahu aku terpenjara oleh kekejamanmu sedangkan engkau disana bergerak bebas melewati masa-masa kehiduapanmu. Dan jika engkau menulis tentang kisah kita, jangan ada point yang merepresentasikan kepicikan dan analisa rendahmu yang tidak berbasis pengamatan objektif, logis dan penuh kebijaksanaan. Jangan sampai kau membuat wacana menyalahkan dan mendiskreditkanku, karena dalam pandangan mendalam dan kematanganku, aku tidak pantas mendapatkan status bersalah dari setiap peristiwa-peristiwa dari tragedi besar kita.      

Karena sebenarnya.... sumber masalahmu dan penderitaanmu adalah penyikapan dan statement-statement yang kamu buat selama ini. Buka karena kau meninggalkanku....           

0 Comments



Leave a Reply.

    Author

    Ahfa Rahman Syah

    Archives

    April 2014

    Tentang Uswah

    All
    > Aku Bermimpi Indah..
    > Aku Masih Merasa..
    > Aku Pernah Yakin..
    > Antara Agama...
    > Antara Cinta...
    > Cerita Yang Terus..
    > Cinta Yang Tak Pernah..
    > Cita-Cita Ini....
    > Dia Adalah Bangsawan
    > Fatamorgana 1
    > Fatamorgana 2
    > Imperialisasi Cinta
    > Kami Terpisah..
    > Kaum Hawa
    > Kebiasaan Yang Maha..
    > Kesunyian Dalam Takbir
    > Ketika Mereka..
    > Ketika Waktu..
    > Kuingin Menyalurkan..
    > Last Letter To Uswah
    > Mencari Dan Mencerna..
    > Mencintainya Seperti..
    > Pertanyaan Besar..
    > Revalina...
    > Tak Berdaya
    > Tentang Perasaan
    > Tentang Picik..
    > Tidak Berani Berharap
    > Untuk Dia...

Powered by Create your own unique website with customizable templates.