Rumah Karya

  • Beranda
  • Puisi
  • Prosa
    • Tentang Uswah
    • Tentang Aku dan Jean
    • Tentang Perempuan
    • Prosa Teologis
    • Prosa Erotis
    • Untuk Cinta
    • Refleksi
  • Renungan
  • Esai
  • Resensi Film
  • Fotografi
  • Desain Grafis
  • Penulis
    • Galeri

Statemen Pemberontakan

4/26/2014

0 Comments

 
Seandainya di dunia ini tidak ada penilaian, mungkin manusia bebas dan tenang dalam pencapaiannya, karena pada dasarnya dunia ini universal dan kompleks, starting point manusia berbeda, namun konvensi dunia menyatakan manusia bermula seimbang dan menentukan sebuah pencapaian dengan satu garis finish.

Seharusnya aku tidak perlu ulet dan kerja keras, cukuplah aku pemalas dan tak perlu serius dalam hidup asal normal kejiwaanku, karena manusia akan lebih sukses pada keadaan itu,

Orangtuaku menumbuhkan raga dan fisikku tapi menghancurkan kejiwaanku, lalu aku dituntut sama seperti yang lain, dan aku dihina jika tidak sama dengan yang lain, sebuah penjajahan yang terselubung…

Orang tuaku dan tuhanku tidak tahu ilmu psikologis…, mereka pintar tapi BODOH…..

Serasa apa yang aku lakukan dalam hidup ini percuma dan sia sia, padahal karya dan usahaku sudah melebihi kewajaran, Usaha yang menghasilkan cela, tapi disana banyak kesantaian yang membuahkan pujian,  

Tuhanku tidak menghargai usahaku, dia tahu aku tidak dalam area yang tidak menguntungkan, tapi kegagalanku dianggap mutlak dan serupa dengan kegagalan yang lain. 

Tuhan yang menaruh embrioku di rahim seorang perempuan tertentu, hasil pembuahan dari laki-laki kasar dan temperamental, lalu aku dibiarkan hidup dengan pontang panting, dan segala dinamikaku disejajarkan secara sebab akibat dengan manusia normal. 

Mereka ibarat alat pencetak sebuah produk, membentukku dengan seenaknya, dan ketika aku berbentuk tidak serupa dengan yang lain, mereka berdalih…, bahwa aku membentuk diriku sendiri…, dan siapakah bisa bertahan dengan hidup dengan fitnah seperti ini…, aku hanya ingin hangus secara fisik dan jiwa secara total dan abadi, ……..

Para orang tua hanya tahu, jika mereka sudah memberi makan, sudah mencukupi pendidikan, sudah memberi tempat tinggal yang teduh, maka itu cukup dan merasa telah melakukan segala kewajibannya, dan jika setelah itu anak masih bermasalah maka itu adalah salah anak sendiri, tapi tahukah mereka sebuah hakekat, cara mereka berkedip saja bisa membentuk karakter anak…

Ahfa Rahman
22-02-2013


0 Comments



Leave a Reply.

    Author

    Ahfa Rahman

    Archives

    June 2014
    April 2014

    Refleksi

    All
    > Ada Yang Tidak..
    > Aku Adalah Jalan
    > Aku Bersama..
    > Aku Dalam Ibarat
    > Aku Ingin Ruang Hampa
    > Aku Pasrah Kepadamu
    > Ambivalensi
    > Dilema
    > Dimana Titik Kebenaran..
    > Dunia
    > Hanya Tinggal Separuh
    > Harapan
    > Impian Untuk Tidur
    > Kebimbangan
    > Lapar
    > Masalah Yang Menyeret..
    > Mereka Cepat..
    > Obat Penenang
    > Pelacurpun...
    > Rumahku Nerakaku
    > Sendiri
    > Seperti Tinja
    > Statemen Pemberontakan
    > Tentang Sebuah Akad..
    > Tentang Seorang..
    > Tersesat
    > The Dreamland
    > They Are Too Strong

    RSS Feed

Powered by Create your own unique website with customizable templates.