Rumah Karya

  • Beranda
  • Puisi
  • Prosa
    • Tentang Uswah
    • Tentang Aku dan Jean
    • Tentang Perempuan
    • Prosa Teologis
    • Prosa Erotis
    • Untuk Cinta
    • Refleksi
  • Renungan
  • Esai
  • Resensi Film
  • Fotografi
  • Desain Grafis
  • Penulis
    • Galeri

Ada Vibrasi di Paramadina

4/26/2014

0 Comments

 
Ada jiwa yang terengah-engah di Paramadina, Terengah-engah karena vibrasi dan goncangan jiwa hati yang menggelora, ada manusia yang tidak cukup kosakata untuk menggambarkannya, hanya ada beberapa tanda bahasa yang mendekatinya; “Indah”, “Anggun”, “Semampai”, dan “menggairahkan”

Vibrasi ini kencang namun sangat lunak dan lembut dinikmati oleh indra perasa,..............                           Baru saja ia menyapaku “sudah makan siang?” aku berkata “sudah” Dalam waktu tanda bahasa ini tertulis, dia sedang bercengkerama dengan tuhan disampingku.... dengan seragam sholat berwarna hijau perak, balutan dan kondisi  yang menggairahkan dalam keadaan transendental. Seharusnya harus tercipta tanda bahasa baru semacam “Indah” tetapi lebih mewakili sifat atau nilai “keindahan tiada tara”

Ada sebuah informasi baru setelah komunikasi sepintas setelah sholatnya...Ternyata dia adalah sang “Ada”. Seseorang yang semalam sebelumnya terlibat komunikasi elektronik denganku. Sempat terdapat kata “anulir” dalam komunikasi itu yang membutku gundah gulana. Tapi pada detik ujung bolpoinku menggambarkan tanda bahasa ini, kata “gundah gulana” itu berubah menjadi “indah”.

Namun komunikasi yang langka itu terpotong..................................

Agak susah sebenarnya mengconvert rasa hati itu kedalam bahasa konvensional, tapi bila sedikit dipaksakan “perasaan itu sangat lembut namun dibumbui dengan gelora-gelora, seperti rasa indah dari kolaborasi antara cinta  dan gairah”

Wanita itu bergaun hijau dan putih, kolaborasi yang sejuk, rambutnya terbungkus oleh kain warna hijau, tirai tubuhnya putih dan bercorak hijau, raganya amat ramping dan tertata proporsional

Gadis itu sigap dan lincah......., Berkali-kali berputar dengan kakinya melintas dihadapanku. Dia menganggapku sebagai satu diantara hiruk pikuk massa dan manusia, tetapi aku melihatnya seperti seorang permaisuri diantara histeria para rakyat negeri.

Pawakannya teramat anggun dan menggairahkan, wajahnya bulat berpijar bak bola-bola lampu disekitar taman-taman pondok indah, Holistika bentuk wajahnya sembab dalam istilahku. Atau mungkin mungil dan imut dalam bahasa konvensional.

Dia bisa diinterpretasikan melalui pohon bonsai, mungil... tetapi sangat eksotis dan indah, pohon yang terlihat hijau karena lebat daunnya. Batangnya cukup besar dan kuat menopang ranting-rantingnya. Akarnya sangat bersih dan halus..., dahan dan ranting-rantingnya amat lentik dan anggun, buahnya ranum dan segar menggelayut disisi ranting, daun-daunnya lebat berwarna hijau muda dan terlihat berkilau-kilau. sebuah pohon bonsai hijau yang teramat sempurna....

Dia adalah sang “Ada” dalam bahasa sunda, berjalan-jalan anggun menyusuri ruang paramadina, menawarkan kegairahan semu bagi para penonton dan penikmatnya, mempersembahkan kegalauan dan kegilaan bagi pecintanya, dan menciptakan realitas terindah dalam sejarah cinta jika naluri dan pengembaraan angan sang pecinta itu menjadi sebuah realita.   

Ahfa Rahman
November 2010

0 Comments



Leave a Reply.

    Author

    Ahfa Rahman

    Archives

    April 2014

    Tentang Perempuan

    All
    > Ada Vibarsi Di Paramadina
    > Aku Merinding
    > Aku Sadar..
    > Alfaina...
    > Bidadari Putih
    > Cara Mencintai..
    > Demam Karena Dikau
    > Doa Cinta Untuk Tuhan
    > Harapan Cinta
    > Herwati..
    > Jubah Terbaik...
    > Maria Magdalena 1
    > Maria Magdalena 2
    > Maria Magdalena 3
    > Mimpi Itu
    > Ratapan Untuk Selir
    > Selintas Seperti..
    > Surat Untuk Selir
    > Tamu Perempuan..
    > Tuhan...!
    > Untuk Azhar 1
    > Untuk Azhar 2

Powered by Create your own unique website with customizable templates.